Nataru dalam Balutan Kasih

oleh -458 views

Shanah tovah!

Mungkin begitu bila umat Yahudi mengucapkan selamat tahun baru mereka yang berbasis pada sistem Lunatic.

Agak berbeda dengan kaum Yahudi, kita yang menggunakan Kalenderisasi Gregorian pada hari ini merayakan nyali melangkah memasuki tahun anyar. Semangat baru? Mmm, bagi sebagian orang mengawali tahun baru adalah momentum penting. That’s why ada beberapa yang membuat prakiraan next milestone.

Bagi kita yang masih disibukkan dengan perkara harian mungkin juga tak pernah ambil peduli dengan resolusa resolusi.

“Semua toh terlihat sama saja. Ya gak?” cuit seorang teman di sebuah lini media sosial. Menjelang tahun baru kemarin ada begitu banyak feed Instagram, cuitan twitter, unggahan FB dan masih seabrek status di akun media sosial hingga setiap pojokan para warganet. Saya? Ya, tentu ikut meramaikan lompatan algoritma.

Ada yang menggelitik nalar sewaktu menemukan pesan singkat nan padat dari komunitas Montessori.

“Non ci ricordiamo dei giorni, noi ci ricordiamo dei momenti“. Atau dalam terjemahan bahasa Inggris, “We do not remember the days, we remember the moments”.

Cuplikan frasa yang diamini oleh sebagian besar keluarga di Itali tersebut mengingatkan saya kembali pada momen yang begitu hangat di ujung tahun 2022 yang lalu.

Sengaja saya mengundang saudara dan kerabat kecil untuk makan bersama. Hanya meluangkan waktu untuk mensyukuri atas apa yang membuat kami bersatu. Rasa saling menopang yang ingin saya bagikan ternyata disambut indah oleh beberapa sahabat dan saudara.

Malam itu, terciptalah momentum renyah di balik permainan cap sa “ndhodhok“. Hanya sebuah hukuman jongkok bagi mereka yang kalah dalam permainan, membuat kami tak mampu menyembunyikan kehangatan tawa.
Hingga kemudian menjelang jam 23.00 WIB kami menyudahi semua. There’s no fake at all. Kehangatan yang benar-benar nyata. Bukan hanya sekadar jumlah notifikasi “like” terbanyak. Nope. Hanya rasa saling berbagi yang terjalin di antara kami.

Usai gelar kebersamaan bersama keluarga dan kerabat, saya memilih menikmati sisa waktu di tahun 2022 dengan berjalan kaki sendiri menikmati Solo CFN yang hanya berjarak 300 meter dari tempat tinggal saya.

Dua tahun lebih Solo Car Free Night tak menyala berhias kembang api. Malam tahun baru 2022 kemarin, warga Solo kembali tumplek blek, meruah di atas badan Jalan Slamet Riyadi. Mulai dari kawasan rel bengkok Purwosari hingga sepanjang Jalan Jendral Sudirman di depan Balaikota Surakarta resmi ditutup untuk CFN.

Undangan dari Pemkot tentu saja disambut gempita oleh warga Solo juga beberapa kerabat mereka dari berbagai daerah. Maklum sajalah, ini kesempatan bagi para penjelajah rupiah untuk pulang kampung. Sekadar bersilaturahmi dan berbagi cerita.

Mungkin memang ada benarnya pula Karl Marx dengan Das Kapital-nya. Momen menjelang tahun baru sungguh bermanfaat bagi perputaran roda ekonomi kerakyatan. Mungkin secuil keadilan sosial ini yang ingin dicicipi oleh kapitalis kecil yang berjajar di sepanjang pedestrian kota. Mulai dari mainan hingga bermacam makanan dan minuman a la rétro hingga jaman now.

Kaki saya masih terus menelusuri badan jalan. Beberapa pejalan kaki menggunakan badan jalan untuk duduk bergerombol bersama rombongan mereka. Akrab, kadang beberapa terlihat berswafoto atau berfoto bersama dengan latar ribuan makhluk berjuluk manusia. Sungguh, kami benar-benar menginvasi jalan protokol nan keramat di kota Solo.

Tiba saat counting down. Malam ini saya melewati lini waktu di tengah mereka. Penikmat malam. Menghitung setiap detik yang disambut oleh percik cahaya kembang api memancar tepat di atas ubun-ubun kepala. Once again, satu momentum tercipta. Satu ingatan telah merasuki serat-serat memori episodik saya.

Pada hitungan nano detik saya sempat terlarut dalam hingar bingar lagu lawas Dewa, “Kamulah Satu-satunya” yang mengantar kaki saya berhenti menapaki badan jalan. Kembali saya berada di tengah lautan manusia berduyun memadati CFN menuju area parkir di sepanjang jalan Bhayangkara.

Wow, sekilas saya ingat peristiwa kelam di Korea. Sedikit tergesa saya menerobos sela pejalan kaki yang memenuhi badan jalan. Dalam sekejap saya tercekat. Alangkah banyaknya kumpulan manusia di sana saat itu. Ah, meski terkesan ruwet, namun Jalan Slamet Riyadi bukan gang sempit kawasan Itaewon. Jalanan ini lebih lapang, lebih luas.

Euforia perayaan tahun baru 2023 telah usai. Telah lewat. Namun momentumnya masih terasa. Layaknya botol bekas minuman dan makanan serta kertas pembungkus dan plastik yang begitu banyak berserakan di badan jalan. Sungguh sayang badan jalan di depan area Sriwedari berubah seperti Tempat Pembuangan Sampah.

Entah mengapa ada rasa gemas yang tiada terkira melihat sampah-sampah berceceran. Padahal sudah disediakan tempat sampah di sekitaran pedestrian. Hfffth, begitu sulitnya membiasakan buang sampah pada tempatnya.

Sayang sungguh sayang. Ya, meskipun dalam amatan saya esok hari Jalan Slamet Riyadi kembali bersih seperti sedia kala. Waw, big appreciate for bapak-bapak DPU. Jayalah terus pengabdian mereka. Semoga beliau-beliau itu diberi kesehatan dan kebahagiaan di sepanjang tahun ini.

Ah, ingin pula rasanya kaki melangkah meniti 3,5 km di depan untuk menikmati indahnya hasil toleransi yang menyeruak di bawah kerlip lampion jembatan Pasar Gede.

Melihat persiapan Klenteng Tien Kok Sie di kompleks Sudiroprajan. Meniti indahnya lampion Sincia di akhir bulan Januari ini. Melebur kembali dalam balutan cahaya pohon terang yang masih digandrungi oleh warga Kristiani maupun non Kristiani. Namun waktu mencegah saya.

Sedikit harap, grebeg Sudiroprajan yang sempat terhenti oleh pandemi segera kembali hadir menghiasi kota kami. Sebagai salah satu wujud realisasi epik empati dalam bentukan toleransi.

Janari mulai menyadarkan saya kembali ke rumah tinggal saya. Ingat jua hari ini, pagi ini, ada ibadah awal tahun. Artinya, saya masih harus bangun awal untuk mempersiapkan altar dan segala kebutuhan pelayanan di gereja.

Selamat Natal dan Tahun Baru. Saya ingin mengucapkan selamat bagi teman-teman semua yang hingga kini masih bertahan untuk tetap berjuang.

Shalom.

Responses (8)

Tinggalkan Balasan