Banyaknya artikel yang melarang untuk mengucapkan selamat Natal yang dishare di grup-grup WA ataupun media sosial lainnya, tak begitu berpengaruh pada diriku sendiri. Ada pendapat yang tidak memperbolehkan mengucapkan selamat Natal bagi seorang muslim. Bahkan ada juga yang mengharamkannya. Keluargaku sendiri ada yang mengingatkan toleransinya jangan kebablasan, termasuk mengucapkan selamat Natal karena bisa merusak keimanan.
Aku nggak akan membahas alasan itu lebih lanjut karena tulisan ini kubuat untuk menghindari unsur SARA. Yang jelas aku hanya berprinsip “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” Kalaupun aku mengucapkan selamat Natal pada teman-teman yang beragama Kristen, semata-mata hanya membudayakan toleransi antar umat beragama.
Meskipun aku seorang muslim, ketika masih sekolah dasar kelas tiga, aku duduk sebangku dengan teman yang beragama Kristen Protestan.
Temanku Risa sering mengajariku nyanyi lagu-lagu Kristen. Bahkan sampai saat ini pada usia lima puluh tahun masih hafal lagu Malam Kudus.
Kelas empat aku pindah ke SD Pematang Panggang 4 Kabupaten OKI-Sumsel. Aku juga duduk sebangku dengan mbak Aries dari Surabaya yang beragama Kristen Protestan. Di bangku sebelah kiri ada mbak Sri berasal dari Bandung yang Katholik. Dari mereka aku tahu perbedaan-perbedaan antara keduanya dalam hal peribadatan.
Ketika SMP kelas dua disamping ada yang beragama Kristen juga ada yang pemeluk Hindu dan Budha. Mereka baik-baik semua. Bahkan I Wayan Dwije yang dari Bali sering bantu aku mengerjakan PR, hehe…
Guru yang beragama lainpun sangat baik terhadapku.
Ketika SMA kelas 1, aku akrab juga dengan teman Nasrani. Hanya saja dia yang berasal dari Medan pindah sekolah sebelum kenaikan kelas.
Berawal dari kenangan masa sekolah itulah aku sudah biasa hidup bertoleransi sesama pemeluk agama lain.
Sekarang saat usia paruh baya aku lebih banyak lagi teman yang beragama Kristen. Bahkan sesama penulis online pada salah satu blog ada ribuan teman Nasrani. Meskipun hanya di dunia maya, semuanya sudah sangat akrab layaknya teman di dunia nyata. Akupun mengucapkan selamat Natal pada mereka.
Dalam salah satu grup WA juga bareng dengan para penulis anggota WKRI tingkat kabupaten Banyumas. Dari mereka aku tahu cerita seputar perayaan Natal tahun 2022.
Rupanya beberapa temanku sudah mempersiapkan dengan matang untuk menyambut perayaan Natal.
Menurut mbak Sari temanku yang pernah meluncurkan buku keroyokan bareng aku dan kawan-kawan lainnya, “Natal tahun ini Puji Tuhan lancar. Dan ini untuk pertama kalinya setelah pandemi kami bebas mengikuti Misa Natal di Gereja Katedral Purwokerto. Tentunya dengan tetap menerapkan anjuran dari pemerintah seperti wajib pakai masker dengan baik dan benar, membawa hand sanitizer, cuci tangan dengan air mengalir, ukur suhu tubuh sebelum masuk Gereja.”
“Dan yg boleh mengikuti Misa adalah umat yg benar-benar sehat (tidak sedang flu, batuk, demam dan tidak sedang menjalani isolasi),” lanjut mbak Sari.
Dia juga sangat berterima kasih kepada Polres Banyumas yang selalu siap siaga menjaga keamanan di sekitar Gereja.
Sedangkan menurut mbak Vonny, “Untukku yg umur segini mungkin akan beda dengan mereka yang berlainan umur sama aku. Tapi secara pribadi, bagiku yang sudah menjalani macam-macam, Natal tahun ini aku merasa tenang. Terkait dengan tema Natal resmi dari KWI dan PGI, ‘…Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan Lain’. Tema ini dikutip dari kitab Mathius 2:12.
Ini artinya: kalau sudah menemukan Tuhan, kita harus menjalani hidup dengan arah yang baru (melalui jalan lain), jangan pakai cara-cara lama karena hidup sudah diubah menjadi lebih baru.”
Berbeda dengan pak Sutriyono yang hanya mengikuti Misa Natal, tak ikut perayaan-perayaan khusus. Akan tetapi secara keseluruhan perayaan Natal di daerahku berlangsung aman dan lebih berkesan karena beberapa tahun ada pembatasan dari pemerintah, tidak dirayakan seperti tahun 2022.
Aku teringat ucapan temanku mbak Sri, “Berteman dengan banyak suku dan agama tidak ada salahnya, bisa menambah wawasan. Soal iman adalah relasi setiap individu dengan Tuhannya.”
Kuucapkan selamat Natal tanpa ragu. Dia mengucapkan terima kasih sekali atas toleransiku yang sangat tinggi, begitu katanya.
Semoga dengan rasa toleransi yang tinggi antar umat beragama, “Bhinneka Tunggal Ika” senantiasa terjaga. Pada gilirannya Indonesia tercinta akan selalu aman dan damai.
Selamat Natal 2022 dan Tahun Baru 2023.

Lahir di Banyumas
Menulis apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan









mantap… ternyata ibu Ety punya blog sendiri; terima kasih sudah membagikan blognya; dan terima kasih juga untuk artikel ini…
Blog orang pak Roni…hehe
Selamat Tahun baru Mba Etty
Inspiratif. Selamat tahun baru, Mbak Ety.
Selamat Tahun Baru juga mbak.. Semoga lebih sukses menghasilkan karya2 bagus
Sama sama Terima kasih…
Terimakasih mas Arif…
Selamat tahun baru 2023 juga semoga selalu sehat dan lancar rezeki berkah
Inspiratif. Terima kasih untuk artikelnya mbak Ety. Salam..
Sama sama Terima kasih…