Potongan lidi pada Porseni Sekolah Dasar
Di Sekolah Dasar Surabaya tempat saya dulu belajar ada guru agama Islam, Pak Soleh namanya. Pada waktu tertentu beliau memperagakan jurus pencak silat di kelas. Kami harus merapatkan meja dan bangku belajar ke belakang agar tersedia ruang yang cukup di depan kelas untuk Pak Soleh berolah jurus. Sebagian murid menyaksikan kepiawaian beliau dengan berdiri di atas bangku.
Pernah ada Porseni SD se Kecamatan Wonocolo. Kepada setiap pemain sepakbola yang mewakili Sekolah, beliau memberi potongan lidi sepanjang korek api. Lidi tersebut diletakkan dalam kaos kaki. Katanya agar setiap pemain kuat lari dan tidak mudah dijatuhkan lawan.
Apa yang dilakukan Pak Soleh adalah upaya sesaat, selama berlangsungnya porseni saja. Pak Soleh memberi sugesti dan pembangkit motivasi semangat bertanding. Namun bagi para murid hal itu tak beda sebagaimana warga masyarakat mempercayai khasiat jimat. Bedanya waktu penggunaan jimat permanen dalam berbagai bentuk, misal ikat pinggang, cincin atau kalung.
Selain di permukaan badan, ada pula material yang ditanam di bawah permukaan kulit, namanya susuk. Susuk dipakai untuk berbagai keperluan. Ada yang dipasang di wajah untuk meningkatkan pesona daya pikat, untuk menjaga stamina maupun yang berhubungan dengan sakit penyakit.
Material susuk berasal dari logam bahkan ada yang dari emas. Ada wujud tentu ada harga mengikuti prinsip ekonomi. Maka ongkos memasang susuk dari logam mulia logikanya lebih mahal.








Iya. Sudah zaman modern kok ya masih ada yang percaya susuk.. hehehehe.
Terima kasih atas artikel, Pak Pudji.
Salam hormat
Begitulah Pak Budi, konon banyak yang berminst menggunakan cara instan ini agar cepat terkenal.
Terima kasih telah singgah.
Hormat saya.
Pak Pudji terimakasih untuk artikelnya
Terima kasih Mbak Dinni telah singgah di kolom ini.
Hormat saya.
Waaah terimakasih untuk artikelnya Pak Pudji, menarik dan yang menjadi pertanyaan saya, gimana dulu cara memasukan susuk itu? Apakah melalui operasi atau bagaimana? Salam hormat
Nah itulah yang tidak diungkap Pak N.
Mungkin pak dukun tetap melakukan proses sterilisasi sebelum mendorong susuk masuk ke kulit sehingga tidak terjadi radang atau infeksi lokal.
Terima kasih Mas Warkasa.
Hormat saya.