
Kamis pagi pada tanggal yang diwarnai merah, saya menumpang angkot nomor 10 dari pasar Mawar, Kota Bogor. Entah jurusan akhir ke mana.
Pastinya melalui kawasan wisata kuliner yang tersohor bahkan sampai ke luar kota hujan. Pecinan di jalan Suryakencana. Tepatnya di sekitar Gang Aut.
Di sanalah saya berseru kepada pengemudi, “kiri, Mang!”
Turun dari angkot, melihat kesibukan di trotoar. Para turis domestik merubung pedagang kaki lima. Penjual soto santan, cungkring (kikil sapi) rebus, bakso bening khas Bogor, soto mie, pangsit kuah, dan kue-kue. Juga pisang dan petai.
Sementara gerobak lumpia basah, pepes sagu, dan lainnya belum beroperasi. Tampak sebuah gerobak kukus talas baru datang. Gerai makanan yang menggunakan toko sebagai tempat dagangan baru sebagian buka, semisal nasi goreng petai Guan Tjo, Lo Mie. Lainnya masih tertutup.
Jarum jam belum menegaskan angka delapan. Saat matahari meninggi, mestinya tempat jajanan itu semakin ramai. Baik itu penjual makanan, para pemburu kuliner, maupun kendaraan melintas dan berhenti.








Yang penting Pak Budi punya cadangan Allopurinol (nama generik) untuk menghalau asam urat.
Semoga sudah pulih sehat kembalu Pak Budi.
Hormat saya.
Hehehehe. Kebetulan diresepkan allopurinol oleh dokter.
Aamiin. Terima kasih atas doa, Pak Pudji.
Salam hormat
Jadi pengen makan soto santan nih, tapi disini adanya empal gentong ☺️
Kayaknya hampir mirip ya
Lumayan mahal untuk harganya, tapi saya rasa, harga sesuai rasa. Jadi ngiler pingin nyobain soto santan..
Terima kasih