7 dalam 17: Merengkuh SDGS
Oleh: Maurinta
Pertengahan bulan April lalu, saya dihampiri kejutan manis. Saya mendapat kesempatan menjadi BA (brand ambassador) Ucool WeCool. Well, Ucool WeCool ini bukan produk. Mungkin namanya kedengaran seperti produk minuman atau makanan atau barangkali kecantikan, ya. Bukan, sama sekali bukan.
Ucool WeCool adalah sebuah wadah bagi anak muda untuk menjadi agen perubahan dalam kaitannya dengan SDGS. Apa itu SDGS? SDGS atau sustainable development goals adalah cita-cita mulia PBB untuk mewujudkan kemerataan pembangunan berkelanjutan di semua negara. Tujuan mulia ini disepakati oleh para pemimpin negara, termasuk Indonesia. Negara maju maupun berkembang bersinergi untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dengan prinsip integrasi dan dan inklusif. Dengan kata lain, diharapkan tidak akan ada seseorang atau pihak tertentu yang tertinggal/tidak dilibatkan dalam proses pembangunan berkelanjutan.
Pemberian kesempatan kepada saya sebagai BA bersama sejumlah putri-putri terpilih lainnya pun menjadi bentuk inklusivitas itu sendiri. Selama ini, jarang sekali orang berkebutuhan khusus dengan penglihatan rendah atau low vision dipercaya/diberi kesempatan sebagai duta untuk suatu produk atau organisasi. Para pemegang kebijakan di belakang produk atau lembaga lebih suka mengangkat orang-orang yang lengkap secara fisik untuk menjadi BA. Pemberian kesempatan ini amat berarti bagi diri saya pribadi. Brand ambassador masih berkaitan dengan modeling, dan selama ini saya berjuang keras agar orang seperti saya dapat menembus dunia tersebut. Dunia modeling masih sangat keras untuk calon model berpenglihatan rendah.
Ok, back to topic. SDGS itu sendiri ditargetkan sejak tahun 2015 hingga 2030. Sekarang kita memasuki tahun 2023. Itu artinya masih ada waktu 7 tahun lagi untuk mencapai semua target. Bisakah sisa waktu 7 tahun kita wujudkan semaksimal mungkin untuk mewujudkan 17 prinsip SDGS? Bisa, pasti bisa. Mulailah dari langkah-langkah kecil yang kita bisa. Kalau saya, ya dengan menulis atau dengan menjadi BA. Apa saja ke17 prinsip SDGS? Ayo kita bahas beberapa di antaranya.
- Tanpa kemiskinan
Kemiskinan bagai hantu yang masih menggentayangi bangsa kita. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 22,76 persen rakyat Indonesia masih terperangkap di rahang kemiskinan. Namun, saya merasa data yang dirilis tersebut lebih sedikit dari kenyataan. Mungkin jutaan rakyat miskin lainnya belum terdata. Cita-cita pertama SDGS adalah memberantas kemiskinan. Lantas, bagaimana dengan generasi muda? Kita bisa apa? Barangkali dengan menyisihkan sebagian pendapatan atau uang jajan atau apa pun yang menjadi pemasukan untuk membantu duafa. Kalau bisa, bantulah mereka agar bisa berdiri sendiri. Menurut saya, prinsip tanpa kemiskinan ini sejalan dengan sila kelima Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan ini berkaitan dengan aspek ekonomi.
- Tanpa kelaparan
Stunting menjadi isu yang belum kehilangan kegawatannya. Anak berbadan pendek dan kurus, ibu hamil, serta lansia perlu mendapat perhatian lebih akan pemenuhan gizi. Terjadinya kelaparan bisa disebabkan karena kemiskinan, ketidakstabilan pemerintah, konsumsi yang berlebihan, dll. Saya sering membayangkan betapa senangnya, andaikan saja, makanan dari hasil pesta atau dari operasional harian di restoran, dibagikan pada anak-anak yang kelaparan. Para pengelola resto dan penyelenggara pesta begitu mudahnya membuang-buang makanan dengan jumlah besar.
Berhenti membuang makanan, langkah terkecil untuk prinsip SDGS yang kedua. Hal berikutnya yang dapat kita lakukan adalah rutin berbagi makanan. Saya sendiri, bersama Mama, sudah membiasakan hal ini. Kami rutin berbagi makanan kepada tukang becak dan pemulung. Kegiatan bagi-bagi makanan ini juga bisa menjadi ajang waktu yang berkualitas antara saya dan Mama.
- Pemerataan pendidikan
Saya termasuk beruntung bisa menggapai pendidikan hingga jenjang magister. Kesempatan sebagai awardee LPDP (kini alumni) mengantarkan saya meraih titel magister di bidang Bahasa Indonesia. Tapi bagaimana dengan anak-anak muda lain? Sudahkah pendidikan merata? Baru tadi pagi saya mendengar berita di TV tentang anak-anak yang terpaksa diliburkan sebab buku paket di sekolahnya dicuri. Saya jadi ingin membedah isi kepala si pencuri, mempertanyakan apa motifnya melenyapkan buku pelajaran siswa sekolah. Itu baru anak-anak normal, ya. Bagaimana dengan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus? Memang sudah ada peraturan bahwa tiap sekolah wajib menerima anak berkebutuhan khusus. Realitanya, masih banyak sekolah yang menolak. Saya sendiri dulu pernah kesulitan mencari sekolah. Pendidikan haruslah merata dan inklusif. Tiap orang, normal atau berkebutuhan khusus, kaya maupun miskin, berhak menerima pendidikan setinggi Menara Petronas.
Buat para mahasiswa atau fresh graduate, mungkin bisa memulai langkah kecil dengan berbagi ilmu. Misalnya mengajar anak kecil secara Cuma-Cuma, atau apa pun lah berkaitan dengan berbagi ilmu. Saya sendiri kerap kali menjadi tempat bertanya bagi adik tingkat di pascasarjana yang sedang berjuang menyelesaikan tesis. Ilmu itu luasnya lebih dari samudra, banyak jenisnya. Apa pun ilmu yang kita miliki, bagikanlah. Agar tercipta pendidikan yang merata.
- Ekonomi dan lapangan pekerjaan
Pengangguran berijazah banyak sekali. Problemnya klasik: keterbatasan lapangan kerja. Angkatan kerja yang berkebutuhan khusus juga kesulitan mencari pekerjaan. Tidak banyak perusahaan/lembaga yang cukup mempercayai kelompok minoritas satu ini. Trus solusinya apa, besty? Mungkin kita bisa memaksimalkan potensi yang ada. Di era 4.0, banyak sekali lapangan kerja baru yang sebenarnya bisa kita lakukan sendiri apa bila kita punya skill. Misalnya menjadi freelancer. Banyak kok, skill yang bisa kita pelajari dan kuasai dengan mumpuni berbekal teknologi.
- Air dan sanitasi yang layak
Ayo, siapa yang suka buang-buang air? Kalau cuci tangan, keran dibiarkan terbuka. Berhemat air adalah langkah paling kecil untuk merealisasikan prinsip SDGS yang satu ini.
- Kesetaraan gender
Ini topik sejuta Dollar, ups, sejuta perempuan ya, sepertinya. Namun sebagai perempuan, saya malah kadang terpikir hal lain. Jika ada Komnas Perempuan, kenapa tidak ada komnas laki-laki? Jika perempuan begitu dilindungi, kemana laki-laki harus mencari perlindungan? Yang namanya kesetaraan gender, laki-laki juga mestinya punya kesempatan yang sama untuk mendapat perlindungan meski mereka kerap kali disebut lebih powerful dari perempuan. Korban kekerasan tidak hanya perempuan, tetapi juga para pria. Hanya saja, pria-pria ini memilih menutupinya. Stigma lelaki sebagai sosok yang kuat membuat mereka cenderung enggan menampakkan kelemahan.
- Energi yang bersih dan terjangkau
Rasio elektrifikasi di Indonesia sebesar 91%. Artinya, masih tersisa 9% warga masyarakat yang belum bisa menikmati pemerataan listrik. PR pemerintah cukup banyak untuk memastikan sisa 9% ini merasakan aliran listrik. So, apa kita hanya diam saja? Tidak. Kita juga bisa melakukan gerakan kecil. Salah satu caranya dengan hemat listrik. Masih menjadi pertanyaan di benak saya: bagaimana dengan energi angin, air, dan panas bumi di negara kita yang sebenarnya potensial? Tidak bisakah dimanfaatkan seluruhnya?
- Mengurangi kesenjangan intra maupun antar negara
Akhir-akhir ini, jagat media sosial dihebohkan dengan aksi flexing atau pamer kekayaan pejabat negara. Laporan kekayaan dicek. Dua anak pejabat pajak dan kepolisian terseret. Apa yang mereka lakukan menjadi bentuk kesenjangan. Mereka pamer harta, tak sadar di sekelilingnya masih ada yang masih sangat miskin. Seseorang pernah memberi nasihat bahwa lebih baik tidak pernah memamerkan apa yang kita punya di tempat yang bisa diakses publik. Amat penting untuk menjaga jari-jari tangan kita agar tidak tergelincir.
- Kota dan Komunitas yang berkelanjutan
BPS melansir ada 87% penduduk Indonesia yang menempati rumah layak huni. Kota yang berkelanjutan tidak hanya seputar hunian saja, tetapi juga infrastruktur. Kota-kota di Indonesia belum banyak yang ramah bagi orang berkebutuhan khusus. Sebagai warga kota, kita bisa apa untuk mendukung prinsip ini? Sederhana saja: tidak membuang sampah sembarangan, merawat fasilitas publik di kota (setidaknya dengan tidak merusaknya), dan responsif pada warga kota yang berkebutuhan khusus.
- Infrastruktur, inovasi, industrialisasi
Prinsip ini masih berkaitan dengan yang sebelumnya, yakni mengenai infrastruktur. Inovasi juga diperlukan dalam aspek pekerjaan maupun sisi kehidupan lainnya. Bahkan inovasi menjadi salah satu nilai karakter yang wajib dimasukkan dalam proses pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi. Berani berpikir di luar kotak dan jangan ragu menyuarakannya. Banyak usaha rintisan yang akhirnya sukses dan menjadi unicorn juga karena pendirinya berani berpikir di luar pemikiran orang kebanyakan.
- Kesehatan yang baik dan kesejahteraan
Kita baru saja melewati pandemi Covid-19. Lepas dari cengkeraman pandemi bukan berarti kita lengah. Saya sendiri masih membiasakan memakai masker sampai sekarang. Utamakan menjaga diri sendiri dan orang lain. Sakit itu tidak enak. Pikiran tak tenang, produktivitas pun terganggu. Percayalah, tak ada yang menyenangkan dari sakit.
- Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
Apa jenis sampah yang mengerikan? Sampah tekstil. Itu semua diakibatkan fenomena fesyen cepat (fast fashion) yang menuntut industri tekstil berkejaran dengan waktu serta trend. Fast fashion adalah bentuk produksi dan konsumsi yang tidak bertanggung jawab. Fesyen berkelanjutan dapat menjadi alternatif agar produksi dan konsumsi dapat dilakukan secara bertanggung jawab. Tanggung jawab di sini artinya memikirkan kesehatan/kesejahteraan karyawan dan juga kelestarian lingkungan. Saat ini muncul juga trend gaya hidup sustainable living. Bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk mempraktikkannya di rumah.
- Menghadapi perubahan iklim
Suka tidak suka, siap tidak siap, perubahan iklim sudah terjadi. Baru minggu kemarin BMKG memperingatkan tentang cuaca panas. Perubahan iklim tak lepas dari peranan sampah plastik dan konsumsi yang kurang bertanggung jawab. Apa yang bisa kita lakukan? Sebisa mungkin melakukan produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab.
- Menjaga ekosistem daratan
Keanekaragaman hayati adalah anugerah. Saya membaca sebuah novel berjudul Dunia Anna. Jostein Garder begitu piawai menggambarkan andaikan dunia tak lagi memiliki keanekaragaman hayati. Hewan-hewan yang dulunya ada, hanya bisa dinikmati secara virtual. Kita bisa mencegahnya. Dengan apa? Barangkali kita bisa berhenti menggunakan produk-produk fashion yang terbuat dari kulit hewan langka. Lebih memilih produk dalam negeri dengan komposisi bahan non-kulit hewan.
- Menjaga ekosistem lautan
Suka ke pantai? Jangan buang sampah sembarangan kalau begitu. Tadi pagi, saya menyimak berita mengenai minyak dari kapal tanker yang mencemari laut. Sampah plastik juga berdampak mematikan keanekaragaman laut. Kalau bisa, jangan lakukan itu, ya. Jangan buang sampah sembarangan pas lagi healing ke pantai. Healing boleh, buang sampah sesukanya jangan.
- Perdamaian dan keadilan
Nah, ini favorit saya. Sebagai aktivis toleransi yang menyuarakan toleransi beragama lewat tulisan, saya berharap tak ada lagi kejadian tak menyenangkan seperti patung Bunda Maria ditutup terpal. Toleransi hanya bisa terlahir bila kita membuka pikiran. Buka hatimu, itu bukan sekadar judul lagu. Buka hati untuk mengizinkan toleransi masuk. Saya tak ragu belajar agama lain. Bukan untuk pindah agama, tetapi untuk memahami orang-orangnya dan ya sekadar mengetahui ajaran agama tersebut.
- Kemitraan
Ini juga kesukaan anak muda. Saya sendiri suka berkolaborasi. Media sosial paling berpeluang untuk menciptakan jejaring, mencari peluang baru, bahkan berkolaborasi membuat proyek. Saya bersyukur ada Instagram. Walaupun sosmed buatan Om Mark ini pernah mengecewakan saya, dia juga mempertemukan saya dengan partner-partner kolaborasi yang luar biasa.
Itulah tadi ke17 prinsip SDGS. Siapkah memanfaatkan 7 tahun yang tersisa untuk merengkuh 17 prinsip itu?

Kompasianer, novelist. Penyuka isu toleransi dan pluralisme. Gadis bermata biru. l.maurinta.wigati@gmail.com







Wah senangnya mba Maurin mau gabung di SKB alias eskaber. Salam hangat mba
Terima kasih untuk artikelnya mbam Maurin. Inspirarif..