ilustrasi via unsplash.com @Dave Hoevler
Pelan kurambati anak tangga, menurun meniti masa, dengan kaki tertatih aku berjalan melarut dalam tuntunan gending gendang suargaloka
Miris kudengar raungan anak manusia bertingkah, berpolah, mengisi bejana kisah hidup mereka dengan kidung yang berdengung bersama rintihan tetes air hujan mengeriap
Dengarkan, wai dengarkan,
Jerit tiap dahan kering yang menengadah ke atas, berbisik seraya mendongak kepada langit, “aku lelah, anak manusia, aku lelah membumikan tiap tunasku, bilakah kau peduli ataukah telingaku yang telanjur tuli?”
Sementara di ujung timur bumi, mentari telah memasang kemahnya di angkasa, bersiap menempuh jalan ke langit barat tanpa kenal letih yang meraya
Andai dapat kuminta sekali ini saja, duduk menikmati malam melumat siang begitu saja, dan senja kutahan sekejap saja, apakah kau akan marah sedemikian rupa?








