Gus Dur dan Toleransi Beragama

oleh -214 views
Gus Dur (poster.lazada)
#EventSKB #toleransiberagama #Natal2021


 12 tahun sudah Gus Dur atau Abdurrahman Wahid, meninggalkan kita. Meskipun Gus Dur adalah tokoh yang kontroversial, banyak yang merasa kehilangan. Saya teringat sahabat non muslim yang menangis di telepon ketika mendengar kepergian beliau. 

“Kenapa kamu yang sedih?” Tanyaku.

“Mut, dia satu-satunya tokoh yang membela pluralisme, melindungi rakyat tanpa membedakan ras, suku dan agama,” jawabnya sambil terisak.

Memang benar, sampai saat ini saya tidak melihat adanya tokoh nasional yang betul-betul memelihara pluralisme. Apalagi elite politik, mengaku nasionalis tapi menekan golongan yang lain. Mereka hanya memikirkan kepentingan kelompok sendiri.

Gus Dur, Presiden keempat ini dikenal sebagai bapak pluralisme. Karena pada masa kepemimpinannya, kerangkeng terhadap budaya dan agama selain lima itu dibuka. Selama puluhan tahun Orde Baru mengekang kebebasan mereka.

Mengapa Gus Dur berani? Tentu ada dasarnya. Karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, Rahmat untuk seluruh umat manusia. Seyogyanya Islam memberikan kedamaian bagi seluruh umat manusia, sebab  semua manusia adalah ciptaan Allah SWT. 

Ingatlah  firman Allah SWT. “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al-Hujurat: 13)

Mari kita telaah Pluralisme, berasal dari kata plural dan isme. Plural berarti beragam aau aau majemuk dan isme berarti faham. Perpaduan kedua term ini mengantarkan pada arti “faham atas keberagaman.” Aslinya, dalam konteks peradaban barat, kata pluralisme bermula dari adat-istiadat gereja pada abad-abad pertengahan.

Secara sederhana pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya mentoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.

Sedangkan menurut Alwi Shihab, pluralitas agama adalah faham keberagaman yang selalu terbuka dan interaktif secara produktif dengan penganut agama lain tanpa harus kehilangan jati diri akan agamanya sendiri, karena memiliki komitmen dan keyakinan yang kuat terhadap kebenaran agamanya tersebut. Akan tetapi juga tidak menafikan adanya unsur kebenaran pada agama-agama lain.

Menurut Gus Dur, bahwa perbedaan keyakinan secara teologis tidak akan menghalangi untuk bekerja sama antar Islam dengan pemeluk agama lainnya, terutama dengan menyangkut berbagai masalah kemanusiaan. Baginya, sikap saling pengertian merupakan yang mendasar bagi umat beragama, sehingga dapar bersama-sama melakukan refleksi diri dan bersama sama menegakkan moralitas, keadilan, dan perdamaian umat manusia.

Pertama, konsep pluralitas Gus Dur adalah nonindeferent yaitu mengakui dan menghormati keberagaman agama. Gus Dur menyatakan perlunya tiga nilai universal dalam pluralisme agama yaitu; kebebasan, keadilan, dan musyawarah untuk menghadirkan pluralitas sebagai kemaslahatan bangsa. Gus Dur menghargai pluralitas nonindeferent dimana pluralitas agama pada dasarnya merupakan sebuah realitas dalam kehidupan

Sesungguhnya islam tidak memandang pluralitas sebagai sebuah perpecahan yang membawa kepada bencana. Islam memandang pluralitas agama sebagai rahmat Allah yang diturunkan kepada makhluk-Nya. Dengan pluralitas agama, kehidupan menjadi dinamis karena terdapat kompetisi dari masing-masing elemen untuk berbuat yang terbaik.

Hal ini membuat hidup menjadi tidak membosankan karena selalu ada pembaruan untuk menuju kemajuan. Sementara Al-Qur’an mengakui secara tegas adanya pluralitas agama dalam berbagai aspek kehidupan dengan berbagai argumentasi ayat-ayat Al Qur’an. Dalam hal ini, pendidikan agama islam memberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini serta beribadah menurut keyakinan masing masing. Pemilihan sebuah keyakinan merupakan pilihan bebas yang bersifat personal. 

Maka adalah suatu ironi jika banyak tokoh agama justru mengkonfrontasi Islam dengan agama lainnya. Padahal semua itu ada karena kehendak Allah SWT. Jika menentang keberagaman, berarti menentang penciptaan Allah. Camkan baik-baik, keberagaman adalah Sunnatullah, merupakan bagian dari kekuasaan Allah.

Gus Dur sangat memahami hal itu. Dia berupaya mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Semua umat bebas menjalankan ibadah masingmasing dan bergaul dengan sesamanya. Tidak ada sekat ataupun perbedaan.

Kini, di tengah arus radikalisme yang semakin kuat karena tunggangan politik, kita butuh tokoh-tokoh seperti Gus Dur.  Namun sayangnya belum terlihat seorang tokoh nasional yang bisa mempersatukan semua umat. Mungkin kita harus menggelar doa bersama agar Allah memberikan pemimpin yang kita butuhkan.

#EventSKB

#ToleransiBeragama

#Natal2021



Tinggalkan Balasan