Roos dan Bunga Setaman

oleh -593 views
Kembang Setaman

Oleh: Desi Oktoriana

Siapa tak kenal Roos, perempuan muda, cantik, bertubuh sintal dan kerap memamerkan perhiasan mahal. Di tengah kerumunan ibu-ibu saat senam minggu pagi di depan Swalayan sebelum buka. Semua perhatian seakan tertuju pada Roos. Saat jari tangannya yang lentik terpasang perhiasan tiga cincin berlian berkilauan yang memukau. Pada pergelangan, jam tangannya juga tak kalah bersinar Serpenti Tubogas, jam Bvlgari yang mewah berwarna keemasan berbentuk ular melingkar.

Sebagian ibu-ibu menduga, harga perhiasan Roos yang dipakai di tiap pertemuan tak kurang dari lima puluh jutaan. Pakaian serta kendaraan yang baik motor maupun mobil juga selalu mengundang perhatian. Rumahnya pun paling mentereng terletak bagian depan komplek perumahan Griya Ganarsih. Luas tanahnya mencapai seribu meter persegi.

Satu hal yang membuat ibu-ibu terus mendekati Roos, sifat royal dan ramah yang tak dibuat-buat. Padahal dalam dada mereka banyak yang merasa takut kalau suami-suami mereka berpaling pada Roos anak Pak Sterman Saidi, pengusaha ternak sapi di Garut Selatan.

“Mampir dulu Bu Lani, Bu Irma dan Bu Siska, saya punya banyak kue enak yang baru dipanggang tadi pagi,” ujar Roos dengan nada renyah dan senyum yang memikat.

Mana mungkin ketiganya menolak rejeki berlimpah yang bukan saja sering mereka terima. Undangan itu akan berbuah hadiah lain yang membuat  tiga tetangga tak pernah merasa iri. Bagi Roos, ketiga ibu yang kerap diundang bukanlah tetangga biasa, mereka teman dekat yang bisa dipercaya.

“Baiklah, saya mampir sebentar ya,” timpal Siska sembari membalas senyuman Roos dengan tepukan ringan di lengan.

“Ayo Bu Irma dan Bu Lani, masuk duluan ke mobil,” seru Siska sembari membukakan pintu dan menarik tangan mereka untuk segera duduk.

Di pekarangan rumah Roos Sterman Saidi yang luas dan teduh keempat wanita sempat bercengkrama ringan. Sembari duduk di bangku taman menikmati segarnya suasana pagi.

“Maaf ya Neng Roos, Siska nggak bermaksud menyinggung perasaan tapi penasaran loh mengapa harus mengenakan perhiasan banyak-banyak,” tanya Siska perlahan sembari menunjuk cincin berliannya.

“Amit-amit ya. Apa tidak takut nanti ada yang berniat jahat?” lanjut Siska dengan nada khawatir dan kening berkerut.

“Ah, Bu Siska, Nak Roos ini kan jago olahraga beladiri, loh,” bela Lani yang menjabat sebagai ketua RT 01 dimana mereka semua tinggal. Umurnya paling tua di antara mereka berempat dan sikapnya pun paling tenang.

“Bukan begitu Bu Lani, sekarang kan sedang marak pencurian dan perampasan beritanya viral. Saya hanya sedikit khawatir akan keselamatan Neng Roos,” jelas Siska tegas,

“Sudah, sudah teman-teman, bagus Bu Siska mau perhatian pada saya, tapi memang sulit bagi saya pergi kalau tidak pakai asesoris,” jawab Roos berterus terang. Jawaban bernada ramah dan halus membuat Siska enggan untuk membahas hal itu lebih jauh.

Tak terasa percakapan telah berlangsung lebih dari satu jam. Ketiganya buru-buru pamit. Seperti biasa Roos membekali mereka kue coklat panggang, amplop berisi tiga lembar uang seratus ribuan dan hadiah lain yang membuat wajah ibu-ibu jadi sangat ceria.

Misterius

Roos tak menyadari, sejak pagi seseorang yang misterius dari seberang rumah selalu mengamati gerak-geriknya. Hanya Lani yang sempat memerhatikan kejanggalan tanpa mengungkapkan kepada kedua temannya agar tak terjadi kepanikan. Lani merasa akrab dengan postur tubuh pengintai yang tinggi semampai namun tak bisa menebak wajahnya karena tertutup masker dan baju hoody berwarna biru dongker. Tak mungkin menganggap sepele, pengintai itu terlalu serius memerhatikan suasana di rumah Roos. Berdiskusi dengan Pak RW adalah jalan keluarnya. Perasaannya sangat kuat Roos akan mengalami kejadian yang, Ah, kecurigaannya tak lagi diperdalam.

Sebelum pulang Lani segera menemui Pak RW, membahas kejadian ini tak bisa ditunda-tunda. Lani takut terlalu terlambat. Meskipun yakin Roos punya kemampuan beladiri dan ada dua orang satpam yang senantiasa berjaga di rumah mewahnya tetap saja ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang. Perlahan Lani mengetuk pintu rumah Tendi, istrinya segera menyambut dengan senyuman dan mempersilakannya duduk dan menunggu sejenak.

Perbincangan menjadi lebih serius ternyata bukan hanya Pak RW yang memiliki kecurigaan seperti yang sama. Ada tiga orang lain yang sama-sama menduga bahwa memang akan terjadi sesuatu di rumah Roos. Entah kapan.

“Apa sebaiknya kita bicarakan dengan Nak Roos mengenai hal ini Pak Tendi?” tanya Lani ragu.

“Iya, kita harus bicarakan secepatnya, saya takut dugaan kita ini benar-benar terjadi, Bu RT,” jawab Tendi tegas.

“Siapa yang akan menyampaikan? Saya baru dari rumah Roos belum sempat pulang, bagaimana kalau Pak RW bersama istri saja?” pinta Lani.

 “Baiklah, Saya akan bawa Pak Sekretaris juga agar ada saksi dan bisa memberi solusi untuk hal ini,” sahut Tendi sembari bergegas merapikan pakaian dan menuju dapur memanggil istrinya.

Lani mengangguk terus berdiri kemudian pamitan segera setelah Pak RW dan istrinya bersiap menuju rumah Roos bersama Pak Ivan, sekretaris RW. Sebelum nya mereka sudah menghubunginya lewat telepon genggam.

Baru saja Lani hendak menganti pakaian senam dengan daster, telepon berdering, persis pukul setengah sebelas. Kabarnya Roos sudah terkapar dan bertabur kembang setaman. Darahnya memenuhi lantai kamar tidur hingga dinding-dindingnya yang putih berbercak merah. Tubuh Roos terkena dua puluh luka tusukan di leher, dada dan perut. Sangat mengerikan. Mendengar berita dari telpon itu membuat Lani gemetar dan menjerit. Tetangga ramai berdatangan ke rumah Lani yang jaraknya terpisah sepuluh rumah dari rumah Roos.

Sirine mobil polisi dan ambulans bergaung memecah keheningan Komplek Griya Ganarsih, warga ramai menyaksikan dari seberang jalan. Garis polisi terpasang sepanjang gerbang depan hingga dinding bagian belakang rumah. Tampak jelas oleh mereka, Pak Sterman Saidi dan Istrinya baru sampai dan tergopoh-gopoh mendatangi rumah Roos anak satu-satunya pewaris perusahaan keluarga yang bergerak dalam bidang ternak sapi mulai dari penggemukan, pemotongan hingga ekspor daging sapi kalengan ke Amerika dan Jepang.

Kembang Setaman

Sterman Saidi yang biasanya nampak gagah berbalut jas abu-abu kini terlihat pucat dan matanya sembab karena terus menangis. Sementara istrinya, ibu tiri Roos terlihat lebih tenang hanya sesekali menyeka matanya dengan sapu tangan satin terakota senada tas Hermes berwarna sama. Roos memang sudah terpisah lama dengan ayahnya yang tinggal di Garut, sekira lima tahun setelah ibunya meninggal Roos tinggal sendiri di komplek Griya Garnasih sambil berkuliah di salah satu Universitas ternama di Bandung, sebenarnya Roos hampir menamatkan S2 bidang manajemen beberapa bulan lagi.

Sampai satu bulan lamanya polisi belum bisa mengendus motif pembunuhan. Tidak ada barang yang hilang, tidak ada rekaman CCTV yang mencurigakan. Tidak ada orang yang mencurigakan di hari kejadian bahkan pengintai yang telah mencemaskan hati Pak RW dan Lani itu ternyata adalah anak buah Pak Sterman Saidi untuk menjaga keamanan Roos.

Rumor yang beredar kuat hanya satu, soal dugaan kematian yang mengenaskan. Persaingan bisnis yang memupuk dendam kesumat. Seseorang ingin membunuh Roos agar Perusahaan Starla Company tak punya garis pewaris.

Di sebuah rumah sempit, seorang wanita paruh baya yang anggun dan nampak cantik tersenyum simpul, perasaanya sungguh lega, dendamnya terbalas sudah. Tak percuma ia gadaikan semua untuk merekayasa. Ia sangat yakin polisi dan jajarannya tak akan pernah menduga. Dirinya adalah dalang dibalik pembunuhan sadis anak Sterman Saidi. Kembang setaman harum semerbak mengelilingi tempat tidurnya.

Tamat.

Bandung, 29 Juni 2024

Tentang Penulis: Desi Oktoriana

Guru SDN 173 Neglasari Bandung. GP Angkatan 4 Kota Bandung. Pengajar Praktik Angkatan 10 Kota Bandung.

Responses (2)

Tinggalkan Balasan