Generasi Strawberry Harus Belajar Tangguh dari Kakek Buyut Pejuang ’45

oleh -794 views

Tahukah anda, generasi muda sekarang disebut generasi Strawberry? Hal ini disebabkan karena mereka memiliki mental yang rapuh dan cengeng. Jika mereka menghadapi masalah sedikit saja, merasa depresi dan kemudian melampiaskannya dengan cara-cara yang kurang wajar.

Seringkali kita bertanya-tanya, mengapa hal itu bisa terjadi. Kalau diingat-ingat, zaman dahulu generasi seumur saya tergolong kuat dan mandiri. Menjalani pendidikan di sekolah negeri dengan uang saku terbatas. Bahkan ada yang sambil bekerja membantu orangtuanya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan generasi Strawberry rapuh. Pertama, pengaruh tontonan yang tidak bermutu dari televisi. Kedua, pengaruh gaya hidup hedonis yang ditunjukkan para pesohor di Indonesia. Ketiga, pengaruh media sosial yang sulit dikontrol.

Maka kita melihat, anak-anak muda yang konsumtif, senang bersaing dalam hal materi. Jika ada yang tidak mengikuti tren yang sedang berlangsung, maka mereka saling membully. Perbedaan golongan sosial menimbulkan gesekan, sehingga mereka mudah diprovokasi untuk melakukan tawuran. Berkelahi menjadi lebih mudah daripada berprestasi.

Duh, tentu bukan hal ini yang diharapkan para pendiri bangsa. Generasi muda adalah generasi penerus yang diharapkan kelak mempertahankan eksistensi bangsa dan negara Indonesia. Kalau mereka begitu rapuh, bagaimana negeri ini bisa terus berdiri?

Kakek buyut pejuang

Sesungguhnya hampir semua, katakanlah rata-rata kita memiliki kakek atau buyut yang dahulu turut berjuang mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena perjuangan mewujudkan bangsa dan negara Indonesia telah melibatkan seluruh rakyat.

Sangat beruntung jika kakek atau buyut masih hidup. Kita bisa meminta bantuan agar mengajarkan kepada cucu cicitnya makna dari berjuang. Karena mereka tidak sekedar berjuang untuk mencari nafkah, tapi mewujudkan mimpi besar tentang sebuah bangsa.

Bagaimana caranya? Bila liburan tiba tidak perlu mengajak anak-anak ke tempat wisata yang jauh. Utamakan pulang ke kampung halaman di mana kakek nenek masih tinggal di sana. Tumbuhkan keakraban antara kakek nenek dengan cucu cicitnya.

Satu hal yang harus diingat adalah menjauhkan gadget dari mereka. Sebab jika masih menggenggam smartphone, mereka tidak akan beralih. Kita harus tegas membuat peraturan agar telepon genggam hanya boleh dipegang pada jam-jam tertentu.

Lalu ciptakan kegiatan kegiatan yang melibatkan kakek nenek bersama cucu cicitnya. Misalnya dengan berkebun bersama, atau berjalan menyusuri sungai dan sawah. Di sela-sela kegiatan tersebut, kakek bisa menceritakan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia kepada mereka.

Anak-anak biasanya menyukai sesuatu yang ekstrim, tidak lazim dan tidak mainstream. Maka doronglah kakek nenek menceritakan sesuatu yang unik dan langka dari kisah perjuangannya.

Sebagai contoh , ibu saya pernah bercerita bahwa dahulu mengikuti di Mbah bergerilya ke hutan dan gunung. Mereka berjalan puluhan kilometer untuk menghindari kejaran tentara penjajah. Para pejuang ’45 tersebut pernah kehabisan bekal makanan di dalam hutan, sehingga terpaksa berburu dan makan tikus hutan.

Kisah-kisah perjuangan kemerdekaan semacam itu untuk mengetuk hati generasi muda agar tidak mudah mengeluh dalam menghadapi berbagai tantangan. Apa yang dihadapi anak-anak muda tidak seberapa dengan apa yang dijalani oleh para pejuang ’45.

Bayangkan, zaman dahulu hanya bisa berbekal potongan gula merah untuk berjalan puluhan kilometer. Sedangkan anak-anak sekarang begitu lemah, tidak mau naik angkutan umum, minimal naik motor atau mobil.

Memang Indonesia sudah merdeka. Tapi jangan diartikan secara harfiah saja. Kita harus merdeka dari sistem dan pola kehidupan yang merusak mental. Kemudahan yang disodorkan kemajuan teknologi, justru menjadi tantangan tersendiri. Tugas orang tua untuk mengarahkan anak-anak ke jalan yang benar.

Banyak orang tua yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Mereka pun tidak berupaya menambah pengetahuan dalam mendidik anak-anak. Akibatnya, anak-anak tumbuh liar, hanya terbawa arus pergaulan.

Harus disadari , sangat penting bagi orang tua untuk mengikuti kemajuan teknologi. Di samping itu, mencari tahu apa yang dilakukan oleh anak-anak. Sikap yang paling tepat adalah memposisikan diri sebagai teman bagi mereka. Dengan demikian mereka tidak merasa sungkan berbagi cerita dengan orang tua.

para pejuang 45 (dok. Penggemar Militer.com)

Tentang Penulis: Muthiah Alhasany

Seorang penulis dan petualang

Responses (12)

Tinggalkan Balasan