Perlunya Membumikan Kampanye Lingkungan Hidup

oleh -545 views
Kampanye Lingkungan Hidup “Healing Bukan Hilang”

Kampanye lingkungan hidup menjadi satu hal yang umum ditemui di era kekinian. Bentuknya pun semakin lama beragam, walaupun kata kuncinya kurang lebih sama: ramah lingkungan.

Berkat asupan informasi melimpah di dunia digital, banyak hal yang bisa dilakukan. Ada yang mengkampanyekan penggunaan produk nonplastik, penggunaan energi terbarukan, dan lain-lain.

Semuanya punya tujuan positif, demi kelestarian lingkungan. Sayangnya, gaya penyampaian pesan yang digunakan kadang kurang membumi.

Ada yang terlalu fokus menggunakan istilah “keriting”, sehingga pesan yang disampaikan kurang bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan. Kalaupun ada kampanye masif, umurnya tidak panjang, karena tidak terbangun jadi satu kebiasaan.

Tidak ada juga relevansi yang cukup baik, dengan apa yang sehari-hari  ditemui audiens. Padahal, semakin kuat relevansinya, semakin “mengena” dan efektif juga pesan yang akan disampaikan.

Ibarat pohon, ia hanya disiram dan diberi pupuk saat ditanam pertama kali, lalu dibiarkan saja tapi, dibiarkan begitu saja. Pohon ini memang tetap tumbuh, tapi layu sebelum berkembang, karena akarnya tidak cukup kuat.

Masalah lain, yang membuat kampanye lingkungan hidup terasa kurang membumi adalah, gaya narasi yang cenderung negatif. Ada yang bernada marah, menuding pihak tertentu, atau protes keras seperti seorang aktivis, lengkap dengan iringan musik bernada seram.

Rasanya tentu aneh. Kalau tujuannya memang untuk mengedukasi dan membangun kesadaran, cara-cara seperti ini justru kurang mendidik, kalau tidak boleh dibilang intimidatif.

Kampanye memang sebuah bentuk propaganda, tapi ia jelas bukan film horor atau ajang uji nyali. Kalau memang ingin mengkritik korporasi besar, caranya harus lebih cerdas, kecuali sudah nekat.

Sebagus apapun maksudnya, percuma kalau gaya komunikasinya kurang baik, dan tidak semua audiens paham. Ini sudah terlalu sering terjadi di masa lalu, dan akan sangat bodoh kalau terus diulang.

Lalu, apa yang sebaiknya perlu dilakukan?

Video di atas mungkin bisa jadi alternatif menarik kampanye lingkungan hidup. Ada tren kekinian dalam kebiasaan “healing” ke tempat wisata alam, tanpa melupakan kearifan lokal berbentuk bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Selain permainan kata “healing” dan “hilang“, plus pergantian situasi latar cukup kontras, ada satu fenomena berwujud budaya negatif yang ikut terpotret, yakni perilaku negatif oknum wisatawan di Indonesia.

Seperti kita tahu, negeri ini punya banyak potensi wisata alam yang menarik dan eksotis. Secara nilai ekonomi, potensinya sangat besar.

Jika bisa menggarap dengan baik dan viral, cuan sudah pasti datang. Semakin viral, semakin bagus.

Sayangnya, karena perilaku oknum wisatawan yang kurang tertib, keindahan itu sering cepat rusak.

Ada kebun bunga viral rusak berat karena terinjak-injak. Ada pantai eksotis penuh tumpukan sampah, dan masih banyak lagi.

Apa boleh buat, semua keindahan dan eksotika jadi rusak. Jika tak waspada, lokasi “healing” pun lama-lama bisa hilang.

Kalau sudah hilang, tak akan ada lagi tempat “healing” untuk isi energi. Tak ada lagi manfaat ekonomi yang bisa jadi tumpuan, khususnya oleh masyarakat setempat. Jika kerusakan lingkungannya sudah parah, masyarakat setempat akan tercerabut dari akarnya, akibat terpaksa meninggalkan daerah asalnya.

Miris kan?

Dari sini saja, kita bisa melihat, seberapa tidak efektifnya kampanye lingkungan hidup yang selama ini kita temui. Mereka banyak membahas hal-hal besar, tapi kurang membumi.

Atas nama “ramah lingkungan”, harga produk-produk alternatif yang mereka jual juga kurang membumi, karena jauh lebih mahal dari produk sejenis pada umumnya.

Berhubung harganya kurang terjangkau, tidak mengejutkan kalau akhirnya sepi peminat.

Dengan kecenderungan masyarakat yang semakin selektif, harga menjadi urusan sensitif. Jika ini saja tidak paham, sampai kapanpun tak akan efektif.

Maka, penting untuk membumikan gagasan dan membudayakan itu di masyarakat, supaya kesadaran yang ada bisa tumbuh dengan akar kuat. Dengan mulai dari hal-hal kecil, ia akan jadi besar pada waktunya, dan bisa berdampak luas.

Memikirkan kelestarian Bumi memang keren, tapi, jangan lupa bersikap membumi. Tanpanya, itu hanya sebuah omong kosong.

Response (1)

Tinggalkan Balasan