[Sepenggal Kisah Wanita Aroma Kopi 1]
[Sepenggal Kisah Wanita Aroma Kopi 3] Hujan Air Mata Mendung datang mengundang hujan Angin kencang menerpa wajahku Mimpi pun gelisah Tak lama kabar itu pun datang Terjawab sudah Wanita aroma kopi tergeletak tak berdaya Keperkasaan yang dimilikinya redup lemah seolah-olah tak bernyawa Kuingin punya sayap kala itu Bisa menyumbang secawan anggur untuknya yang ternyata dititiskan untukku Darah yang mengalir di tubuhku adalah warisan dari wanita aroma kopi Dia hanya membutuhkan secawan anggur untuk menyambung hidup demi jantung hati yang pertama lahir dari rahimnya Untaian doa terjawab Secawan anggur didapat dari si jantung hati buah sulung anak pertamanya Hujan air mata berujung bahagia Wanita aroma kopi selamat dari maut Ia masih punya janji untuk cahaya hati buah sulungnya yang telah lama berpulang Erina Purba Bekasi, 20092020
[Sepenggal Kisah Wanita Aroma Kopi 2]
Ketika sunyi menghampiri Aku teringat rinai Rintik-rintik perlahan-lahan membasahi bumi Aku menunggu dengan gelisah Dengan segala resah Rembulan masih tersenyum Menyinari pekatnya malam Menit berganti dengan jam Jalanan setapak dihiasi lampu temaram Rinai masih setia Menambah suasana gundah Yang ditunggu belum kembali Apakah dia tersesat Di bawah aroma kopi Mereka masih berkencan Hingga lupa pulang Lama aku menanti Menunggunya hingga hati letih Penghuni rumah mencari Dimanakah wanita aroma kopi itu berada? Kecintaannya terhadap mahluk bernama kopi Membuat dia lupa jalan pulang Dengan kasih tak terbatas dibelai dan disayang tanpa sadar mentari mulai tenggelam Pekat malam menemani langkah kaki wanita perkasa Rembulan tetap setia menerangi derap langkahnya Kekasihnya yang beraroma itu setia menemani langkahnya Jurang terjal kecewa Tak bisa berjumpa dengan perempuan perkasa itu Hujan masih gerimis Langkah kaki tua perkasa Tiba dengan gemetar Kekasih jiwanya menyambutnya dengan pelukan hangat Sehangat secangkir kopi Bekasi, 20092020
[Sepenggal Kisah Wanita Aroma Kopi 3]
Mendung datang mengundang hujan Angin kencang menerpa wajahku Mimpi pun gelisah Tak lama kabar itu pun datang Terjawab sudah Wanita aroma kopi tergeletak tak berdaya Keperkasaan yang dimilikinya redup lemah seolah-olah tak bernyawa Kuingin punya sayap kala itu Bisa menyumbang secawan anggur untuknya yang ternyata dititiskan untukku Darah yang mengalir di tubuhku adalah warisan dari wanita aroma kopi Dia hanya membutuhkan secawan anggur untuk menyambung hidup demi jantung hati yang pertama lahir dari rahimnya Untaian doa terjawab Secawan anggur didapat dari si jantung hati buah sulung anak pertamanya Hujan air mata berujung bahagia Wanita aroma kopi selamat dari maut Ia masih punya janji untuk cahaya hati buah sulungnya yang telah lama berpulang Erina Purba Bekasi, 20092020






