Di antara Debu-debu Jalanan

oleh -575 views
Di antara Debu-debu jalanan

Bagian Satu

#NOAHSingsLegends
NOAH – Kupu-Kupu Malam (Official Audio)

HUJAN baru saja turun ketika kupacu laju kendaraan Roda dua yang tengah kunaiki di atas jalanan, jalan bertanah kuning yang jika di musim panas biasanya membuat debu-debu jalanan beterbangan menutupi pemandangan.

Jalan tanah yang tengah kulalui ini adalah jalanan milik Perusahaan Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Jalanan ini biasanya hanya di lewati oleh Mobil-mobil besar milik perusahaan pemegang izin yang berada di tempat ini.  

Di bawah siraman air hujan, jalanan yang biasa berdebu ini terasa begitu licin. Kupacu laju kendaraan tapi masih di batas kecepatan yang aman ketika melewati jalanan seperti ini.

Di pinggir tikungan, terlihat bangunan yang sepertinya adalah sebuah Warung Kopi. Di bawah derasnya air hujan, kuperlambat laju kendaraan dan berhenti di depan bangunan yang sepertinya adalah satu-satunya Warung yang ada di tempat ini.

Setelah memarkirkan kendaraan, setengah bergegas kumasuki Warung yang terlihat begitu minim cahaya itu.

Sambil mengibas-ngibaskan air di rambut dan pakaian yang kukenakan, kutatap seisi bangunan rumah semi permanen yang semua dindingnya terbuat dari lembaran papan.

“Ada Air mineral?” tanyaku pada salah seorang Wanita yang kulihat tengah tersenyum ke arahku.

“Ada,” jawab Wanita berparas ayu itu sambil menganggukan kepalanya ke arahku.

Penampilanku terlihat begitu kotor, selain berdebu, sebagian Celana dan Sepatu yang kukenakan sudah hampir tertutup lumpur akibat kecipratan tanah kuning yang sudah menjadi lumpur di sepanjang jalan tadi.

Setelah membuka tutupnya, segera kuteguk sampai habis setengah botol air mineral yang baru saja di berikan oleh wanita muda di depanku.

Sebelum duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu, kukeluarkan sebungkus Rokok dari dalam saku Baju-ku dan menaruhnya di atas Meja yang juga terbuat dari kayu.

“Melly,”

Di antara suara musik milik NOAH yang terdengar pelan di dalam warung ini, kusambut uluran tangan Wanita cantik berkulit kuning langsat di depanku yang memperkenalkan dirinya sambil menjabat erat tangan kananku, dari caranya berjabatan, sepertinya dia tidak merasa khawatir jika orang yang di ajaknya bersalaman itu bisa saja menularkan Covid-19 yang lagi marak saat ini.

“Kopi ada Mel?” tanyaku pada Wanita cantik yang memiliki rambut panjang sebahu sedikit pirang itu.

“Enggak ada Bang, yang ada cuma B*r dan beberapa minuman kaleng disini, kalau mau Melly ambilkan,” jawab Melly sambil tersenyum menatapku.

“Minuman kaleng, apa yang ada?” tanyaku pada Wanita berparas cantik yang memilik bentuk tubuh tergolong plus size ini.

“Kr****daeng ada,” kata Melly yang saat ini kulihat tengah memakai Kaos ketat berwarna hitam dan memiliki resleting pas di belahan dadanya itu.

“Oh gitu? Abang gak biasa minum B*r, kra****daeng aja boleh Mel,” kataku lagi sambil menatap ke arah Rok mini sedikit kembang yang tengah dikenakan oleh wanita yang memiliki bibir tebal dan terlihat begitu sensual itu..

“Melly satu ya Bang?” kata Melly lagi sambil beranjak dari tempat duduknya. 

“Boleh,” kataku sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus-nya.

Ketika beranjak dari tempat duduknya, Wanita cantik yang penampilannya mirip artis Ibu kota ini seperti sengaja memamerkan payudaranya kepadaku. Ukuran payudaranya sekitar 34 -36. Range paling favorit di kalangan para Pria-pria dewasa pada umumnya.

Kuperhatikan Rok mini warna hitam yang di kenakannya, Rok mini berwarna hitam itu sepertinya sudah tidak mampu lagi untuk menutupi pinggulnya yang terlihat begitu membusung ke arah belakang.

Setelah sosok Melly menghilang ke balik ruangan, kutatap seisi Warung yang memiliki beberapa Meja dan Kursi serta satu TV  besar yang tergantung di dinding dalam bangunan semi permanen ini.

Saat mataku berkeliling menatap ruangan, aku sempat melirik ke arah beberapa Wanita cantik yang kulihat hanya mengenakan Piyama dan Celana pendek di atas lutut, disudut ruangan terlihat beberapa wanita seusia Melly tengah bercanda sambil sesekali menghembuskan asap rokok dari dalam mulut mereka.

Melly datang membawa dua minuman kaleng lalu duduk di sebelahku.

Setelah membuka minuman kaleng yang dibawanya, sambil memberikan salah satu minuman kaleng itu kepadaku, Melly bertanya.

“Dari mana mulai kehujanan tadi Bang?” 

Di luar Warung hujan masih terlihat deras, suaranya lumayan berisik saat air hujan itu mengenai atap bangunan semi permanen ini.

 

“Dari Bukit di seberang itu,” jawabku pelan sambil membakar sebatang Rokok M**d yang terselip di bibirku.

Kuhisap dalam-dalam asap rokok yang baru saja kubakar itu lalu menghembuskannya secara perlahan sambil menatap wanita di depanku.

“Mau kemana sih Bang?” tanya Melly sedikit penasaran saat melihat ke arah Celana dan Sepatu kets-ku yang sedikit basah dan tertutup lumpur.

“Mau ke Desa ***,” jawabku pelan.

“Baru pertama kali ke tempat ini ya?” tanya Melly penuh selidik sambil tertawa ke arahku.

“Iya,” jawabku pelan.

“Soalnya Melly baru sekali melihat Abang melewati tempat ini,”

“Iya, memangnya Melly hapal siapa-siapa saja yang pernah melintas dan datang ke tempat ini?” tanyaku mulai tertarik untuk mengorek sedikit saja keterangan dari Wanita berparas ayu ini.

“Hapal sih nggak, tapi ingat! Hahaha..” Melly menutup jawabannya sambil tertawa lebar, terlihat barisan gigi-nya yang terlihat begitu bersih dan rapi dengan hiasan behel berwarna hijau daun untuk mempercantik tampilan gigi-nya.

“Bisa ingat gitu ya?”

“Ya iyalah, masak udah siap “dipake” bisa lupa, hahaha.”

“Maksudnya?”

“Hemm, Abang ini pura-pura lugu apa  pura-pura gak tau sih? Kalau gak tau kok kayaknya udah biasa datang ke tempat-tempat seperti ini. Hemmmm… pasti pura-pura lugu biar di sangka anak baru ya? Hahaha..”

“Gak paham Abang Mel,”

“Hemm,..” Melly memelototiku sejenak, melihatku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, lalu senyum-senyum sendiri.

“Kenapa, Mel?” tanyaku heran, saat melihat Melly senyum-senyum sendiri sambil terus memperhatikanku dari ujung rambut sampai ke ke ujung kaki.

“Nggak! Abang dari mana Sih?”

“Dari Kota .***”

“Ha! Sama donk, Melly juga dari situ, kok bisa nyasar kemari?”

“Lah! Melly sendiri ngapain sampe ke tempat ‘Jin buang anak’ ini?”

“Biasalah Bang, tuntutan ekonomi.”

“Kerja?”

“Iya,”

“Jadi pelayan di Warung Makan ini?”

“Ini bukan Warung Makan, Bang.”

“Trus, Warung apa?”

“Hmmm, pura-pura lugu nih?” kata Melly lagi seperti orang yang tengah menyelidiki.

“Emang gak tau kok,” jawabku kalem.

“Masak Melly harus ngomong terus terang kalau  di tempat ini ada jualan “Ini” sih Bang?”

Melly berkata sambil berusaha menahan tawanya sendiri saat ekor matanya berusaha menuntun pandangan kedua mataku ke bagian paha-nya yang sengaja dia buka lembar-lebar saat ini.

“Hmmm,”

“Iya, biasanya yang pura-pura lugu kayak Abang ini malah lebih laju kalau udah tau rasanya ‘itu’, hahaha..” Melly kembali tertawa lebar saat mengakhiri ucapannya..

“Hmm!”

“Hihihi..,”

“Kita ngobrol-ngobrol aja ya Mel, sambil Abang nunggu hujannya reda,”

“Mau lebih dari sekedar ngobrol juga boleh kok, Bang.., Melly iklas lahir batin. Hahaha…”

“Abang gak punya duit, Mel,”

“Ih, Emang duit bisa ngomong?”

“Bisa,”

“Ha! Duit bisa ngomong? Dimana Abang liat?”

“Di dalam Film Kartun anak-anak,”

“Gokil, ah!”

“Hahaha…”

“Tapi Melly gak enak sama “Ayah dan Bunda” kalau cuma nemanin Abang ngobrol disini,”

“Trus?”

“Kalau Abang gak mau “Make” Melly, ambil “sepasang” ya Bang, biar kita leluasa bercerita di tempat ini.”

“Apa yang sepasang?”

“B*r,”

“Oh, Abang gak “Minum” tapi bolehlah, berapa sepasang?”

“Rp. 150 ribu Bang, Melly cuma dapat fee Rp.25 ribu sepasangnya, lumayan Bang, buat tambah-tambahan kalau lagi sepi pelanggan kayak gini,”

“Iya, boleh, ambilah sepasang, tapi nanti Melly yang minum ya, biar Abang yang bayar,”

“Iya,”

Tentang Penulis: Warkasa 1919

Ruang Berbagi dan Informasi

Responses (4)

Tinggalkan Balasan